Monday, March 18, 2019

Jeritan Pendidikan di Kabupaten Aceh Tenggara

Pendidikan di Kabupaten yang dikenal dengan Semboyan Sepakat Segenep ini sepertinya tidak akan pernah bisa membaik, karna tradisi yang terlanjur di wariskan dari masa ke masa, pemimpin masa lalu yang kita anggap buruk, dan beranggapan bahwa dengan memilih pemimpin yang baru akan menjadi solusi ternyata hanyalah sebuah anggapan belaka.

Kini pendidikan di Kabupaten ini kerap kali menjadi ajang Uji Coba, bergantian tapi malah datang yang lebih buruk lagi, disiplin hanya sementara dikala ada pengawasan saja.

Sumpah sudah biasa
Janji tidak berarti
Rakyat utama hanya basa-basi
Biar mereka mati asal kantong berisi

   Pendidikan dulunya mengajarkan penghargaan
   Tapi sekarang pendidikan mengajarkan ketidakpastian
   Meraka yang kaya terus berkuasa
   Sedangkan yang miskin hanya menonton saja

Anak bukan anakku
Kau sukses aku yang malu
Anakku harus maju
meski mayatmu jadi tanggaku

   Pemimpinku Punya anak
   Pemimpinku punya Saudara
   Pemimpinku punya rekan kerja
   Ada bantuan hanya untuk mereka

Karya : Kandi irawan

SAAT DI TUGU NOL SABANG

Tugu KM Nol Indonesia Terlatak di Pulau Sabang 





Tuesday, February 12, 2019

Masalah Sajadah Yang Tidak Digubris Sang Ibu

Pagi ini sebelum berangkat ke sekolah si Istri berbicara kepadaku, dengan nada yang cukup kecewa dia menceritakan sesuatu yang membuat hatiku kembali menggerutu, dalam diceritanya bahwa saat bik saenah datang dan membawa sedikit oleh-oleh untuk keluarga kami yang baru saja tertimpa banjir bandang di desa Natam, sayapun tidak menyaksikan apa-apa saja yang dibawa, tapi yang saya tau bik saenah ini membawa nasi di rantang, sesuai tradisi adat alas kalau Tukhang Perempuan (Adik Perempuan atau Kakak perempuan) datang ke rumah Tukhang Laki-laki maka sangat di anjurkan untuk membawa Nakan Luah (Nasi Yang dibawah oleh tamu), nasi inipun saya nikmati ketika makan malam.

Disiang harinya ternyata bik saenah tadi tadi membawa barang yang berbentuk sajadah ada beberapa, sehingga ayah mengatakan kepada Ibu untuk memberikan itu kepada Saya " Khe ken plin me kandi e" ucap ayah kepada ibu, saat pembicaraan itu terjadi Istriku juga ada disitu dan menyaksikan kalau ibu tidak menggubris perkataan ayah dan seolah tidak mendengar apa yang dibicarakan ayah padahal ayah mengatakan itu cukup keras.

Dalam kondisi seperti inilah, sangat terasa perbedaan antara aku dan yang lainnya, yang paling ku sesali perkataan yang seperti ini seharusnya tidak sampai ke telingaku, karna ini akan membuat aku jatuh banget.

Serangkaian Kata

Setiap kertas adalah buku, setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, maka belajarlah dari semua itu...!

News

Template by - Abdul Munir - 2008 - layout4all