Sebagai petani kakao yang masih pemula, saya banyak belajar dari para senior yang sudah lama bergelut di bidang budidaya tanaman yang bernama ilmiah Theobroma cacao, banyak orang saya temui dan banyak juga formula yang mereka berikan bahkan tak sedikit pandangan yang berbeda diantara mereka sehingga saya menyimpulkan bahwa metode terbaik itu bukan metode yang penyesuaian dengan tanaman melainkan pada petaninya sendiri. Seperti halnya pemupukan ada pola tabur ada pula kocor punya kelebihan dan kekurangan, pola tabur cocok bagi petani yang waktunya masih banyak terbagi pada kegiatan lain, lebih simpel dan tapi boros penggunaan pupuk, metode kocor hemat pupuk, butuh rutin, dan memakan banyak tenaga. Akhirnya sesuaikan saja dengan profil masing-masing.
Belajar sudah hampir setahun saya menyimpulkan pola saya sendiri
"Pemupukan rutin di lakukan setiap bulan dengan menggunakan NPK, Insektisida + pupuk daun (foliar sebagai pelengkap unsur mikro) 2 minggu sekali, fungisida (Anto Jamur) 2 Minggu sekali, jika musim hujan penyemprotan fungisida di tingkatkan hingga 3 -4 sebulan, jika musim kemarau tingkatkan penanganan insektisida 3-4 kali sebulan.
Selain hal diatas ketersediaan air untuk penyiraman juga sangat penting apalagi lahan kita berbatu atau kerikil, usahakan jika hujan tidak turun 4 hari hari kelima sudah bantu siram, minimal 2 liter perbatang, memang ini tidak akan membuat dia berkembang namun ini bisa membuatnya bertahan, tapi sebaiknya sekitar 5 liter perpohon, jangan menunggu hingga ada tanda kekurangan air, kita sudah telat meskipun dia tidak mati tapi peetumbuhannya akan tertinggal jauh dari kawannya, ingat kata dokter mencegah lebih baik daripada mengobati, bahkan saya tidak tertarik melakukan perawatan dan pengobatan pada tanaman yang sakit, jika tanaman sakit kita rawat biaya perawatannya bisa membeli 2-3 bibitnya pertumbuhannya tidak akan lebih baik dari pada bibit baru yang kita tanam kembali, saya cenderung lebih suka mencabut tanaman sekarat dari pada menghabiskan banyak waktu dan tenaga mengobati.
Jadilah petani yang paham pola smart farming mulai dari menggunakan bibit unggul, menggunakan pupuk sesuai dosis, waktu dan sesuai umur tanaman, Pengolahan tanah untuk tanaman besar atau bukan hortikultura gunakan pembenah tanah karena ini juga sangat menentukan keberhasilan kita, Pencegahan hama dan penyakit harus rutin dan tertib ini minimalnya kalau bisa kita paham hingga penggunaan hormon pada tanaman ini bisa menjadi nilai plus bagi skill pertanian kita.
Kesimpulan
Bertani bukan hanya cerita kita mampu menanam seberapa banyak, tapi seberapa banyak yang bisa kita rawat dan seberapa tertib kita merawatnya.
Di dunia pertanian setiap saat kita belajar, setiap saat kita mencoba memahami.
By. Kandi Irawan

0 Comments
Masukkan komentar Anda Untuk Perbaikan Content diatas.